Jang Mira

Wishing for a life, beyond one's capability.


PROFILE

Born NameJang Mira
Hangul장미라
GenderFemale
BirthplaceDaegu, South Korea
Date of BirthAugust 2nd, 1996
NationalityKorean
EthnicityKorean
Spoken LanguageKorean | English | Japanese
OccupationLibrarian
AffiliationTamna Metropolitan Library
Affectional OrientationHeteroromantic
Sexual OrientationHeterosexual
Zodiac Sign
Chinese Zodiac🐖

Physical Statistics

HEAD

Facial ShapeOval
Eyes ColorBrown
Skin TypeOily
Hair ColorBrunette―often dyed
Hair TypeLong Straight

body

Height165 cm
Weight45 kg
Body TypeSlim
Skin ToneLight
UndertoneCool

Others

HandednessRight-handed
BirthmarkBehind left knee
Tattoos-
PiercingEarlobe
Blood TypeA
RhesusPositive

Personality

MBTIEnneagramFour Tempraments
INFP-TType 6―The LoyalistPhlegmatic

ㅤSosok yang cukup murah senyum ketika berhadapan dengan orang-orang yang datang ke perpustakaan ataupun yang bertanya perihal letak keberadaan suatu buku kepadanya.

ㅤNamun jika seseorang mencurigakan datang dan mulai bertanya perihal sesuatu yang teramat rahasia, wataknya akan bak berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bahkan bisa semena-mena mengusir orang tersebut dari hadapannya saat itu juga.

Jika berada di luar tempat kerja, ia bisa saja melakukan sesuatu yang lebih berbahaya.

ㅤCukup tegas ketika sesuatu tak sejalan dengan peraturan yang telah ditetapkan, tetapi lembut ketika situasi menyentuh hati.

ㅤPerlakuannya pada seseorang kurang lebih mencerminkan bagaimana orang tersebut berlaku kepadanya, kecuali saat bersangkutan dengan data yang selama ini dipegangnya.

ㅤNamun sekali lagi, secara keseluruhan ia hanyalah seorang gadis yang percaya ingin melindungi apa yang ayahnya amanatkan. Walau beberapa kali sempat terhuyung niatnya ingin memperjual-belikan data demi keuntungan sesaat semata.

Trivia

Toleransi alkoholnya rendah, pun kebiasaan mencolok ketika dirinya berada di bawah pengaruh alkohol adalah menari pun menggoda siapapun yang berada di dekatnya.Sangat tidak menyukai asap rokok, sebab pernah menderita tuberclosis paru-paru sewaktu kecil akibat kerap menghabiskan waktu bersama sang kakek yang adalah perokok berat.Peduli pada kondisi kulitnya, yang menjadi satu alasan mengapa ia senang menggunakan face pack setiap malam.Menggunakan parfum dengan vanilla notes, dan mungkin juga ditambah buah-buahan.Teramat menyukai makanan pedas, walau harus menanggung sakit perut selama tiga hari setelahnya.Hanya ingin hidup tenang, pun tidak menginginkan terlibat dalam ranah politik macam apapun.Alasannya menjadi pustakawan adalah karena ia menyenangi tempat tenang, terlebih dikelilingi buku-buku.Menyimpan kenangan pentingnya di antara rentetan buku pada rak di kamar tidurnya.Tidak bisa berenang, hanya bisa gaya batu.Mengklaim bahwa dirinya tidak percaya cerita mistis, tetapi mudah paranoid sehabis mendengar desas-desus makhluk dunia sana.Sempat belajar karate sewaktu masih Sekolah Dasar, setidaknya ia masih ingat dasar-dasarnya.Memiliki semprotan merica di gantungan tasnya, untuk jaga-jaga.


Background story

ㅤHidup seorang Jang Mira jarang menemui kelok pun terjal jalanan yang biasa menjadi persoalan sehari-hari, dengan sang ayah yang hampir tiap hari bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga hingga sang ibu yang berhenti menjadi dokter anak agar dapat selalu menemaninya di rumah. Satu-satunya keinginan yang dimiliki ialah hidup dengan tenang seperti selama ini ia membaca buku di sudut kamarnya. Sesederhana pula serumit itulah harapannya.

ㅤMenduduki bangku kuliah, Mira mulai menyadari semakin seringnya frekuensi kehadiran sang ayah di rumah. Membuat ia sempat bertanya-tanya dalam hati jikalau ayahnya terpaksa berhenti dari pekerjaan seiring dengan maraknya PHK di sana-sini. Namun di sisi lain, ia senang dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama kedua orang tuanya. Duduk di meja makan kala sarapan dan makan malam, bertukar kata sesering mungkin, bercerita akan yang terdahulu pernah terjadi di dalam keluarga kecil mereka. Hanya dengan begini, Mira sudah teramat bahagia.

ㅤNamun Tuhan memang adil. Tak mungkin siapapun terus-menerus berada di atas angin, ada kalanya roda diputar hingga mereka yang tadinya bebas bahagia terjatuh ke bagian paling bawah. Mira sendiri tak yakin ingat bagaimana reaksinya ketika pulang mendapati kerlap-kerlip lampu dari mobil polisi di depan rumahnya. Juga bagaimana sang ayah dinyatakan tewas bunuh diri dengan jasad menggantung di halaman belakang menggunakan tali tambang yang biasa dibiarkan teronggok di samping pohon. Sempat membuat si anak gadis berang terhadap aksi egois pria tersebut untuk pergi dari dunia tanpa menjelaskan kenapa.

ㅤSeakan hal tersebut belum cukup, Tuhan menambahkan keadaan di mana sang ibunda―yang belum sepenuhnya dapat menerima kenyataan―menjadi korban tabrak lari beberapa minggu setelahnya. Kejadian naas beruntun tersebut membawanya harus menumpang hidup sementara pada bibinya di ujung kota lain dikarenakan kaki ibunya yang tak lagi dapat berfungsi dengan baik.

ㅤIa meneruskan hidupnya yang terseok-seok, mencoba menjual rumah lama mereka, menyelesaikan pendidikan, berhasil mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidup sebagai pustakawan perpustakaan kota―yang terkait akan impiannya mendapatkan hidup tenang sebab perpustakaan adalah satu tempat di mana ia bisa tenang. Ketika rumah berhasil terjual, ia menyempatkan diri berbenah kembali demi memastikan tak ada barang yang ketinggalan. Saat itulah ia menemukan sepucuk surat yang tertinggal di kotak surat usang mereka. Tertera alamat penerima yang tak dirinya ketahui, pun alamat pengirim yang adalah rumah tersebut―menandakan bahwa pos tak dapat menemukan alamat yang dituju sehingga membawa kembali amplop tersebut ke alamat pengirim. Begitu pulang ke rumah sang bibi, ia membuka lembaran surat hanya untuk menemukan bahwa guratan kalimat di dalamnya ditujukan untuk dirinya. Siapa yang sangka sang ayah sempat menuliskan apa yang perlu disampaikan sebelum tewas terbunuh.


ㅤMira gagal menyembunyikan keterkejutannya begitu mengetahui kebenaran di balik pekerjaan sang ayah, yang merupakan agen rahasia negara yang sampai akhir hayatnya membawa mati sebuah berkas yang tak semestinya dimiliki siapapun. Dalam dua lembar surat tersebut, sang ayah juga menyampaikan bagaimana ia setengah menyesal tak dapat lagi menemani di sisa hidupnya. Juga bagaimana ia berharap Mira dapat meneruskan wasiat untuk tetap menjaga data dalam bentuk disket yang diselipkan di antara buku bergambar favorit Mira. Isian disket tersebut pun tak kalah mengejutkan, berisi tentang bukti usaha-usaha para petinggi yang usahanya kebanyakan berkecimpung di bidang perdagangan. Manusia, anak di bawah umur, organ dalam, dan aset ilegal lainnya. Demi melindungi entah dengan tujuan apa, ayahnya harus menemui ajal lebih cepat.

ㅤTerpukul dengan kenyataan yang ada, ia menyesali sikapnya yang sempat menghakimi sepihak atas apa yang terjadi pada sang ayah. Pun dalam hati meyakini apapun yang ayahnya percaya, serta berjanji pada dirinya sendiri ia akan menjaga juga apa yang ayahnya jaga. Setidaknya sampai seseorang yang memang pantas mendapatkannya datang. Meski tak jua ia melepas harapannya akan mendapatkan kembali hidup tenang―yang maknanya dapat bercabang.


Family & Relations

Is going to be updated really soon.

Author's note


Is going to be updated really soon.